Bikin Website Hanya 54 Detik... Mau?

http://picasion.com/

Islam Liberal dan Keresahan Umat


Keresahan atas gagasan-gagasan Islam liberal telah lama dirasakan banyak pihak. Dalam Muktamar NU di Boyolali, direkomendasikan penolakan paham liberalisme Islam. Di kalangan Muhammadiyah, sikap anti Islam liberal ditunjukkan dengan tidak dipilihnya Abdul Munir Mulkhan dan Amin Abdullah dalam jajaran PP Muhammadiyah, karena keduanya dinilai berpikiran liberal.



Di tahun 2001, sejumlah kalangan memberikan reaksi penolakan atas gagasan "penyegaran pemikiran Islam" yang disuarakan oleh Ulil Abshar Abdalla. Bahkan Ulil sempat difatwa mati oleh sejumlah ulama yang tergabung dalam Forum Ulama Umat Indonesia (FUUI).

Dan puncak dari penolakan tersebut terjadi saat MUI (majlis Ulama Indonesia) mengadakan Musyawarah Nasional VII di Jakarta, Juli 2005. dalam fatwa yang menyatakan paham sekularisme, liberalisme dan sekularisme Islam sebagai sesat tersebut seakan menjadi gong peperangan terhadap kelompok Islam liberal.

Pertarungan wacana antara Islam liberal dengan penentangnya telah lama berlangsung di negeri ini. Meski demikian patut disayangkan karena sikap-sikap penolakan tersebut selama ini masih terkesan emosional dan apologetik.

Namun akhir-akhir ini pemikiran Islam Indonesia menemukan dinamikanya dengan lahirnya sekelompok intelektual muda yang resah terhadap fenomena liberalisme Islam. Berbeda dengan kelompok serupa yang lain, intelektual muda ini mencoba mengcounter wacana liberalisme Islam sebagai seorang ilmuan dengan sikap ilmiahnya.

Sebagaimana kebanyakan aktivis Islam liberal yang berlatar belakang pendidikan tinggi dan keakraban dengan metodologi kajian agama kontemporer, intelektual tersebut juga berpendidikan tinggi dan akrab dengan teks-teks modern. Kebanyakan mereka menempuh studi MA atau Ph.D di Malaysia. Jika Islam liberal memiliki ikon Ulil Abshar Abdalla, kelompok Malaysia ini menjadikan Adian Husaini sebagai ikonnya.

Buku ini lahir dari ramainya perdebatan seputar fatwa MUI di atas. Penulis yang sedang menulis disertasi di ISTAC (International Institute of Islamic Thought and Civilization) Malaysia melihat adanya ketidakjujuran yang dilakukan aktivis Islam liberal dalam menanggapi fatwa MUI.

Seperti pendefinisian pluralisme agama yang diberikan oleh Ulil Abshar dan Syafii Anwar sebagai sikap menghargai realitas perbedaan dalam masyarakat (mutual respect). Adian menilai kedua pemikir liberal tersebut mencoba mengelabui masyarakat dengan mengaburkan makna sebenarnya dari pluralisme agama.

Dengan mengutip gagasan pemikir pluralis terkenal, John Hick, tentang tiga sikap beragama, Adian menjelaskan bahwa pluralisme agama sikap menyatakan semua agama sebagai jalan-jalan yang sah dan benar menuju Tuhan. Pluralisme mengajarkan sikap mengakui adanya kebenaran dalam setiap agama. Seorang pemeluk agama tidak berhak mengklaim agamanya sebagai satu-satunya agama yang benar atau yang paling benar.

Sikap ini merupakan perkembangan lebih lanjut dari sikap inklusivisme agama dan kritik atas sikap eksklusif. Inklusivisme berarti pengakuan adanya kebenaran di agama lain, tetapi tidak sesempurna kebenaran yang dimiliki agama yang dianutnya. Sebaliknya, sikap eksklusif adalah klaim kebenaran mutlak hanya terdapat dalam satu agama, agama lain dianggap sesat dan tidak menyelamatkan.

Atas ketidakjujuran inilah Adian menilai pemikir liberal sebagai intelektual diabolis. Intelektual diabolis dicirikan oleh beberapa hal, pertama, selalu membangkang dan membantah. Meskipun mereka kenal, paham dan mengetahui kebenaran, tetapi intelektual model ini selalu membantah dan mencari argumen untuk menguatkan opininya. Sikap ini disebut al-'inadiyah.

Kedua, intelektual diabolik bersikap sombong (takabbur), yaitu sikap menolak kebenaran dan meremehkan orang lain. Ciri kedua ini ditunjukkan mereka dengan menyatakan orang-orang yang berpegang pada al-Qur'an dan hadis sebagai dogmatis, literalis, logosentris, fundamentalis, konservatif dan lain-lain. Sebaliknya, orang yang berpikiran liberal, relativistic dan skeptis justru dianggap sebagai pembaharu, kritis, dan sebagainya.

Ketiga adalah pengaburan dan penyembunyian kebenaran. Cendekiawan diabolis bukan tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Tetapi mereka sengaja memutarbalikkan data dan fakta. Dengan berbagai argumennya, kesalahan dijadikan seolah-olah benar, dan kebenaran dikaburkan sehingga membuat masyarakat menjadi bingung.

Buku ini patut mendapatkan apresiasi bagi pengamat dinamika pemikiran Islam Indonesia kontemporer. Setidaknya buku ini menjadi tanda semakin dewasanya umat Islam dalam menyikapi perbedaan. Sudah sepatutnya setiap perbedaan pemikiran dituangkan dalam karya tulis sehingga masyarakat bisa memberikan penilaian sendiri dan bisa menjadi dokumen yang akan dipelajari di masa mendatang.

Tradisi perdebatan melalui karya tulis sebenarnya memiliki akar yang kuat dalam peradaban Islam. Di masa Islam klasik, perdebatan tentang filsafat parepatetik Islam antara al-Ghazali (bapak ortodoksi Islam) dan Ibnu Rusyd (pemikir rasionalis Islam) melahirkan karya mereka yang cukup monumental; al-Ghazali dengan Tahafut al-Falasifah dan Ibnu Rusyd dengan Tahafut al-Tahafut-nya. Mungkin terlalu berlebihan bila kita menginginkan lahirnya al-Ghazali dan Ibnu Rusyd baru dari perdebatan yang selama ini berlangsung di negeri ini, tetapi setidaknya jalan yang ditempuh Adian Husaini dapat menjadi titik awal ke arah impian itu.

Islam Liberal, Pluralisme Agama & Diabolisme Intelektual
Pengarang : Adian Husaini, MA



Berikut Video Dokumenter Islam Liberal dan Pluralisme Agama oleh UST. ADIAN HUSAINI



Load disqus comments

0 komentar