Bikin Website Hanya 54 Detik... Mau?

http://picasion.com/

Beginilah Jalan Dakwah Mengajarkan

“Barang siapa yang tidak benar permulaan kehendaknya, niscaya tidak akan selamat pada kesudahan akhirnya”

Disinilah letak  pentingnya niat. Bukan hanya tentang lahiriah namun juga batiniah. Niat inilah yang nantinya akan mengantarkan kita pada pintu gerbang diterimanya atau tidaknya amalan yang kita lakukan. Dengan kata lain niat adalah perencanaan awal kemana amalan kita akan diarahkan, maka salah merencanakan kita menyiapkan kegagalan.



Betapa urgent nya kewajiban atas dakwah yang kita miliki. Di ungkapkan salah satu firman-Nya pada QS. Al-A’raf 164-165 bahwa Dakwah menjadi penghalang turunnya adzab Allah. Karenannya persaudaraan atau ukhwah yang terjalin dalam jalan dakwah ini bukan hanya persaudaraan di dunia namun juga menjadi saudara di akhirat kelak. Dalam QS. AL-Anfal 73 menerangkan bahwa jika kita tidak saling bantu dan mendukung, sebagaimana yang dilakukan orang-orang kafir, pasti fitnah dan kerusakan akan merajalela. Tandzim atau organisasi dakwah adalah mutlak dan merupakan kebutuhan mendesak.


Realitas yang kita lihat sendiri bahwa manusia cenderung akan menjadi lemah ketika bekerja seorang diri. Sebaliknya akan menjadi kuat dan berdaya ketika ia besama-sama dengan yang lain. Ada juga realitas lainnya, bahwa siapapun yang berusaha mewujudkan sesuatu, meskipun mereka telah ikhlas dalam melakukannya, tetapi tidak akan banyak memberi pengaruh untuk mewujudkan kondisi yang diinginkan jika ia melakukannya sendirian. Kesendiriannya itu menyebabkan upaya yang mereka lakukan menjadi lemah dan minim efeknya.

Bekerja untuk Islam mutlak memerlukan sebuah organisasi, perlu adanya pimpinan yang bertanggung jawab, membutuhkan adanya pasukan dan anggota yang taat, harus memiliki peraturan mendasar yang mengikat dan menata hubungan antara pimpinan dan anggota, harus ada yang membatasi tangung jawab dan kewajiban, menjelaskan tujuan dan sarana serta semua yang diperlukan oleh suatu aktifitas dakwah dalam merealisasikan tujuannya. Dalam kebersamaan itulah seyogyanya kita menempuh jalan dakwah ini.

Kebaikan yang tidak terorganisir dengan baik akan sangat mudah dikalahkan dengan kebatilan yang terorganisir dengan baik.

Seorang pemimpin dibutuhkan  untuk menentukan arah perjalanan dan kemaslahatan perjalanan. Tidak ada keteraturan tanpa kesatuan pengaturan. Apabila syuro telah berlangsung dan keputusan telah diambil, apapun keputusannya itulah yang semestinya dilaksanakan. Demikianlah, perjalanan dakwah memerlukan pemimpin. Dan hasil syuro yang telah diputuskan oleh pemimpin, mengikat untuk saling dukung dan dilaksanakan.  

Dan ingat, satu hal yang pasti ;  harus mengambil perbekalan yang mencukupi hingga perjalanan ini usai. Dan sebaik-baik perbekalan adalah taqwa. Perbekalan inilah yang bisa membantu kami untuk tetap mampu bertahan dan melangkahkan kaki melewati rintangan apapun.

Semangat kebersamaan dalam jalan dakwah tak ubahnya bak batu bata.Tak semua batu bata diletakkan pada posisi tinggi, dan tidak juga harus semuanya ada dibawah. Bahkan terkadang si tukang batu memotong batu bata tertentu jika dibutuhkan untuk menutup posisi batu bata yang masih kosong guna melengkapi bangunannya.Jalan dakwah ini mengajarkan kepada kita untuk lebih memberi perhatian dan pertolongan kepada orang lain , bukan sebaliknya.

QS. Muhammad 9, selalu memotivasi kita : “Jika kalian menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan mengokohkan pijakan kaki kalian.”
Mungkin dari itu kita akan memahami kesyukuran dan ketundukan kepada Allah swt atas karunia-Nya kita berada dalam kebersamaan dalam jalan dakwah ini. Berbahagialah dan berbanggalah karena Allah telah memilih kita berada dijalan ini. Allah telah mengistimewakan kita menerima nikmat berjama'ah dan ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah swt. Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta maupun ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah swt Yang Maha Rahmah, Yang menuntun langkah kita hingga sampai disini, dijalan dakwah yang terjal dan penuh onak ini. 

Sekali lagi,  ini adalah karunia terbaik yang kita terima setelah karunia keimanan kepada Allah SWT. Karunia yang tidak kita dapat karena nasab, status, harta maupun ilmu. Tapi ia semata-mata karunia Allah SWT Yang Maha Rahman, Yang menuntun langkah kita hingga sampai di sini, di jalan ini, pada detik ini. Allah SWT berfirman : “ Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya.” (QS. Ali Imran : 103)
Nikmat ini tidak boleh direndahkan, diremehkan apalagi dipermainkan. Kita harus menjaga dan memelihara nikmat yang teramat agung ini. Dan kita wajib merasa khawatir andai nikmat itu hilang.
“ Ya Tuhan kami, jangan Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami dan karuniakanlah kepada kami rahmat di sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). “ (QS Ali Imran : 8)
“ Jalan Dakwah mengajarkan bahwa kami memang membutuhkan dakwah. Kebersamaan dengan saudara-saudara di jalan ini semakin menegaskan bahwa kami harus hidup bersama mereka di jalan ini agar berhasil dalam hidup di dunia dan di akhirat “.

Mengapa Berada di Jalan Dakwah ?
Karena kita ingin seperti para pendahulu kita (Salafush Shalih) di jalan ini yang telah banyak memperoleh pahala dan keridhaan Allah karena peran-peran dakwahnya. Dan karena itulah, kita memang sangat membutuhkan jalan ini, sebagai penyangga kebahagiaan dunia dan akhirat kami. Tidak heran, jika para penyeru kebaikan, menjadi alasan turunnya limpahan rahmat dan kasih sayang Allah SWT. Tak ada makhluk Allah yang dapat dukungan dan do’a seluruh makhluk-Nya kecuali mereka yang mengupayakan perbaikan dan berdakwah. Sebagaimana sabda Rasululllah SAW, “

Sesungguhnya Allah, para malaikat, semut yang ada di dalam lubangnya, bahka ikan yang ada di lautan akan berdo’a untuk orang yang mnegajarkan kebaikan kepada manusia. “ (HR. Tirmidzi)
Allah SWT menjelaskan tiga kelompok manusia dalam masalah ini. Mereka adalah, kelompok penyeru dakwah yang salih, kelompok salihin tapi tidak menyerukan dakwah dan orang-orang yang mengingkari dakwah. Allah SWT berfirman : “ Dan (ingatlah) ketika suatu kaum di antara mereka berkata: “ Mengapa kamu menasehati kaum yang Allah akan membinasakan mereka atau mengazab mereka dengan azab yang amat keras?” Mereka menjawab: “ Agar kami mempunyai alasan (pelepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan supaya mereka bertaqwa. “ Maka tatkala mereka melupakan apa yang diperingatkan kepada mereka. Kami selamatkan orang-orang yang melarang dari perbuatan jahat dan Kami timpakan kepada orang-orang yang zalim siksaan yang keras, disebabkan mereka selalu berbuat fasik. “ (QS. Al A’raf 164-165)

Nash Al-Qur’an itu merupakan peringatan bagi kita. Bahwa meninggalkan peran dakwah, tidak pernah diterima apapun alasannya. Bahkan bisa jadi sikap tersebut menundang kemarahan Allah (Musafir fi Qithari ad Da’wah, Dr. Abdil Abdullah Al Laili, 195).
Ada pula hadits Rasulullah SAW yang lainnya, Abu Bakar RA mengatakan, “ Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “ Sesungguhnya manusia jika mereka melihat kemungkaran dan mereka tidak merubahnya, dikhawatirkan mereka akan diratakan oleh Allah SWT dengan azab-Nya”. (HR. Ahmad dan Abu Daud)
Oleh karena itu hendaknya teman yang menemani dalam perjalanan ini adalah orang yang bisa membantunya dalam menjalankan prinsip agama, mengingatkannya tatkala lupa, membantu dan mendorongnya ketika ia tersadar. Sesungguhnya orang itu tergantung agama temannya. Dan seseorang tidak dikenal kecuali dengan melihat siapa temannya....” (Ihya ‘Ulumiddin, 2/202)
 wallahu’alam bishawab


download dalam bentuk ppt di sini
Sumber buku :  Beginilah jalan da’wah mengajarkan kami karangan M. Lili Nur Aulia
Load disqus comments

0 komentar