Bikin Website Hanya 54 Detik... Mau?

http://picasion.com/

Tabligh Ust Abu Rusydan : Thaghut dan Jihad Masalah Agama yang Dilupakan




Pada hari Ahad (06/05/2012) di Jalan Dago, tepatnya di Masjid kompleks pendidikan Darul Hikam wal Ihsan, diadakan bedah buku "Potret Ulama; Antara yang Konsisten dan Penjilat". Acara yang diisi oleh dua tokoh masyarakat, yakni Ustadz Abu Rusydan serta ketua FUUI, KH Athian Ali M Dai. Acara yang dimulai pukul 08.30 WIB ini didatangi lebih dari 200 orang dan berakhir pada waktu dhuhur.

Ustadz Abu Rusydan sebagai pembicara pertama menekankan tentang definisi manusia yang berilmu. Dengan berdasarkan pada ilmu yang disarikan dari al-Qur'an, tokoh yang satu ini mengutarakan tiga macam manusia berdasarkan sudut pandang keilmuan. Ada Ulama Rabbani, orang awam dan Ulama Suu'. Ustadz juga menambahkan, seperti yang tertera pada layar yang ia presentasikan, bahwa ulama suu' tidak lebih mulia dari lalat yang hinggap di atas kotoran hewan.

"Saya tidak mengatakan di Indonesia tidak ada ulama rabbani. Namun umat tidak pernah merasakan kehadiran mereka." paparnya. Abu Rusydan menambahkan, ketidakhadiran tersebut justru di saat-saat kritis di mana umat membutuhkan mereka. Ia mencontohkan dua hal, yaitu masalah thaghut dan jihad fi sabilillah.

"Ustadz Abu Bakar Baasyir dalam kata sambutan buku Ya, Mereka Memang Thaghut menganggap penguasa Indonesia sejak zaman Soekarno hingga sekarang adalah thaghut. Sayangnya, lanjut Abu Rusydan, tidak ada ulama Rabbani yang menjelaskan kepada kita apa itu taghut? Yang ada justru celaan terhadap statemen ustadz Abu Bakar itu," terang ustadz asal Kudus tersebut.

Masalah kedua, adalah jihad fi sabilillah. Ketika sekelompok anak muda melakukan aksi yang mereka yakini sebagai jihad fi sabilillah, lagi-lagi yang muncul adalah kecaman. "Tidak ada ulama Rabbani yang mampu menjelaskan apa dan bagaimana jihad fi sabilillah itu," papar Abu Rusydan. Padahal, dua hal tadi, menurutnya merupakan masa'il ad-diniyyah ats-tsabitah al-maghfulah (masalah agama yang sudah baku namun dilupakan). Semua sibuk di masalah-masalah fikih kontemporer, seperti hukum rokok dan sebagainya," jelasnya.

Padahal, menurut Abu Rusydan, pemahaman tentang apa itu taghut sangat penting karena berkaitan dengan tauhid. "Sementara keimanan seseorang tidak akan sempurna tanpa tauhid yang benar," ungkapnya.


Sementara itu, secara pribadi KH Athian Ali menyatakan kurang setuju dengan embel-embel ulama yang disematkan pada Ulama Suu'. Baginya, ulama suu' tidak beda dengan iblis.

Ustadz Athian menambahkan bahwa jika iblis dikafirkan karena satu saja penentangan, maka di Indonesia ini lebih banyak kedurhakaan yang dilakukan ulama suu' dibandingkan dengan Iblis.

Pimpinan FUUI (Forum Ulama Umat Indonesia) ini mengaku sering mendapat aduan tentang sosok yang disebut ulama. "Saya katakan, yang keliru itu anda, mengapa menyebutnya sebagai ulama," Tandasnya.

Ia juga menceritakan contoh buruk seorang ulama, tepatnya ketika FUUI menggelar musyawarah Syiah 26 Maret lalu. Saat itu ada dua pejabat daerah yang diundang. "Tiba-tiba, di depan saya ada seorang yang kondang sebagai ulama menghampiri pejabat tadi; pak, kami proyek begini-begitu, kapan ditengok? Sampai sehina itu mengemis kepada pejabat," tukas KH Athian Ali prihatin.

Acara dihadiri sekitar 600 hadirin. Saat sesi tanya jawab, seorang muslimah melalui tulisan di kertas menanyakan status ulama yang menentukan tarif saat diundang. Dengan tegas, Ust. Abu Rusydan menjawab, "Kalau pasang tarif, jelas mereka menjual agama untuk keperluan dunianya."

Jelang kumandang azan shalat Zuhur, hujan lebat pun turun. Acara diakhiri dengan pembagian doorprice bagi peserta yang menjawab dengan benar pertanyaan moderator seputar isi kajian tersebut(voa-islam.com)
Load disqus comments

0 komentar