Bedah Buku “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman

Mayoritas rakyat Indonesia masih bingung untuk memahami makna dan hakekat siapa thoghut yang sebenarnya. Bahkan tak jarang, seorang yang dikenal sebagai tokoh Islam mengatakan bahwa Indonesia adalah pemerintahan Islam dan bukan pemerintahan Thaghut. Itulah fitnah akhir zaman di negeri ini.

Ustadz Abu Rusydan ketika menjadi pembicara dalam kajian bedah buku “Menjadi Ahli Tauhid di Akhir Zaman – Kajian Tuntas Strategi Umat Islam Menghadapi Konspirasi Global Thaghut Internasional” pada Ahad  (17/2/2013) lalu di Masjid Al Hidayah Perumahan Klodran Indah, Banyuanyar, Surakarta, menegaskan bahwa Indonesia bukanlah pemerintahan Islam.

“Perlu disadari,  Indonesia bukan pemerintahan Islam. Indonesia tidak dibangun atas dasar syari’at Islam, tatanan-tatanan yang ada di seluruh keputusan pemerintah Indonesia sejak tahun 1945 sampai hari ini, tidak ada yang diniatkan untuk menegakkan syari’at Islam, itu jelas,” terangnya.

Dari pembahasan selama ini, baik lewat forum diskusi, kajian ilmiah dan penelitian tentang bagaimana sepak terjang penguasa dan pemerintahan di Indonesia dalam mengatur rakyatnya, da’i asal Kudus ini dengan tegas mengatakan bahwa Pemerintah Indonesia jelas sekali adalah Pemerintah Thoghut.

Beliau menjelaskan, untuk mengetahui seseorang atau sebuah sistem pemerintahan bisa dikatakan sebagai thaghut, indikasinya ada dua.
Pertama jika mereka telah merampas hak Allah dalam membuat hukum dan perundang-undangan, serta mengklaim bahwa hukum dan perundang-undangan tersebut lebih cocok untuk dilaksanakan daripada melaksanakan dan mengamalkan aturan dan syari’at yang  telah ditetapkan Allah.

“Saya tertarik dengan kuliah Ustadz Abdullah Azzam rahimahullah tentang thaghut. Jadi untuk menetapkan sesuatu Thaghut atau tidak, ukurannya itu ada  dua menurutnya. Yakni, merampas hak preogatif Allah swt,  dan mengklaimnya,” ujarnya.

Maka, jika ada penguasa dan sistem pemerintahan yang mengatur tatanan kehidupan rakyatnya tidak menggunakan hukum dan aturan Allah, maka dia bisa disebut sebagai seorang dan pemerintahan thaghut.

“Jadi kalau ada seseorang yang merampas hak Allah, hak Allah itu apa? Yang paling jelas adalah hak untuk disembah. Urusannya disembah itu di sujudi, atau peraturannya harus diikuti, dan lain sebagainya. Seperti hak untuk membuat tatanan kehidupan, ini juga haknya Allah. Kalau ada seseorang atau pemerintah yang membuat tatanan selain tatanan yang sudah dibuat oleh Allah, lalu orang tersebut atau pemerintahan tersebut membuat aturan baru atau bahkan malah bertentangan dengan aturan yang dibuat oleh Allah, maka jelas sekali bahwa dia itu thoghut,” tegasnya. peristiwa aneh yang akan terjadi di akhir zaman ini. Salah satunya adalah perilaku manusia yang setiap saat bisa berubah-ubah dari iman menjadi kufur dan dari kufur menjadi iman. Bahkan perpindahan tersebut seperti disebutkan dalam hadits shahih terjadi begitu cepatnya.

“Pagi mukmin, sore sudah menjadi kafir. Atau, sore mukmin, lalu pagi sudah menjadi kafir. Fenomena seperti itulah yang akan terjadi diakhir zaman nanti. Rangkaian fitnah yang mendera manusia sangat dahsyat sekali seperti malam yang gelap gulita,” ungkap Ustadz Abu Rusydan dalam bedah buku “Best Seller”.


Beliau juga berkali-kali mengatakan bahwa acara pada hari Ahad tersebut adalah bersifat kajian ilmiahi. “ Jadi bagi yang tidak setuju silahkan kita bisa berdiskusi” tambahnya.
Buku yang ditulis oleh Abu Ammar tersebut diterbitkan oleh Granada Mediatama (Arafah Group). Latar belakang penulisan buku tersebut adalah berawal dimasa sekarang ini yang penuh dengan gangguan dalam meluruskan aqidah, ibadah, akhlak ataupun muamalah. Beragam syahwat dan shubhat secara terus menerus mencoba menggoyang niat kita untuk lurus dalam menjalankan syariat Islam.
Ada tiga hal pokok yang dibahas dalam buku tersebut BAB I diberi judul Laa Ilaaha Illa Allah menuju muslim KaaffahBAB II:Selayang Pandang Tentang Thaghut Internasional dan yang terakhir BAB III: Umat Islam Melawan Thaghut Internasional di Akhir Zaman.


Dalam acara yang dihadiri sekitar 500 orang tersebut, hadir sebagai narasumber yakni Ustadz Abu Rusydan dari Kudus dan Ustadz Abu Azzam dari Karanganyar (Moderator). Dalam muqoddimahnya, Ustadz Abu Azzam menjelaskan secara ringkas bahwa di akhir zaman nanti, yang bisa menyelamatkan manusia dari fitnah akhir zaman adalah amal ibadah.

Untuk mengerjakan amal ibadah yang benar sesuai petunjuk Allah dan tuntunan Rasulullah saw, perlu kiranya seorang muslim mempelajari dan mengetahui ilmu tersebut, dan seorang muslim harus bergaul dengan majelis-majelis ilmu dan juga para ulama.


“Dimana kewajiban seorang muslim adalah al-‘ilm. Al-‘ilm inilah yang akan menjadikan kita terarah untuk beramal dan berkata. Imam Ibnul Qoyyim Al Jauziyyah menyebutkan didalam kitabnya Bada’il Fawa’id,  b ahwa perlunya kita bergaul dengan majelis-majelis ilmu dan juga para ulama,” ucapnya.


Alumni Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, Ponorogo, Jawa Timur ini menambahkan bahwa sesungguhnya di akhir zaman nanti juga akan muncul fitnah-fitnah yang membuat manusia itu ragu dengan amal yang dilakukan, dan akan ada banyak para pemimpin yang hancur. Maka untuk menghadapi hal itu, umat manusia diperintahkan untuk berpegang kepada Kitabullah, yakni Al Qur’an dan As Sunah.


“Kitabullah itulah solusi kalian. Didalamnya, kitab itu ada peristiwa sebelum dan setelah kalian, serta hukum diantara kalian. Siapapun penguasa otoriter yang enggan melaksanakan kitabullah niscaya hancur. Barangsiapa yang mencari petunjuk selainnya (selain kitabulloh - red), maka dia akan  tersesat,” tegasnya.


Mengutip hadits Rasulullah saw, “Segeralah beramal sebelum datangnya rangkaian fitnah seperti malam yang gelap gulita. Di pagi hari seorang laki-laki (manusia) dalam keadaan mukmin, lalu kafir pada sore harinya. Di sore hari seorang laki-laki dalam keadaan mukmin, lalu kafir pada pagi harinya. Dia menjual agamanya dengan barang kenikmatan dunia” (HR. Muslim).


Ustadz Abu Rusydan mengatakan, menjadi umat akhir zaman itu tidak mudah. Hanya tauhid yang benar dan iman yang kuat yang bisa bertahan dalam menghadapi ujian untuk perjuangan menegakkan agama.

“Menjadi ahli tauhid diakhir zaman itu maknanya, siap menderita.  Seorang ahli tauhid itu pada saat tertentu, dan dalam keadaan tertentu, harus mengambil satu sikap, apapun resikonya. Dalam kehidupan dunia saja, seperti bisnis atau dagang kita juga menghitung untung rugi dan sering mengambil resiko. Maka menjadi ahli tauhid diakhir zaman juga berlaku hal seperti itu,” tegasnya.

Lebih lanjut, da’i yang pernah mengenyam pendidikan militer di Afghanistan bersama Dr. Abdulloh Azzam ini menegaskan, ahli tauhid di akhir zaman senantiasa berjihad, dakwah amar ma’ruf nahi munkar dan sabar dalam menghadapi ujian dalam berjihad dan berdakwah.





Load disqus comments

0 komentar